SANG PELOPOR,
SEBUAH NOVEL TENTANG MOTIVASI HIDUP.
PENUH INSPIRATIF....
DOWNLOAD SEKARANG
“Bekerjalah, Anakku, sebab semesta menginginkanmu bekerja, bukan menghafal. Mencoba, dan teruslah mencoba, sampai engkau menemukan legenda hidupmu sendiri. Di dalam kemiskinan dan keterbatasan, janganlah kita membuat pembenaran untuk kalah ataumenyerah!” ucap Bu Kasmini kepada semua muridnya diMadrasahKampung Sawah.
“Novel ini harus dibaca oleh para guru, orang tua, juga birokrat yangmengurusi dunia pendidikan kita. Sebagai karya sastra, penggalian tema pendidikannya sangat dalam dan pilihan bahasanya sangat indah. Sebagai inspirasi dan motivasi, sangat nikmat dibaca dan diresapi.
Ini novel ! Tak kalah dibanding kehebatan !”
SunardianWirodono, produser, sutradara, peneliti, dan pengarang Syair Panjang Aceh.
Akan lebih tepat jika catatan ini sebagai ungkapan rasa bangga kami karena memiliki kesempatan menyunting naskah Sang Pelopor. Di dunia yang serba tak pasti dan tak memberikan kesempatan bagi setiap perbedaan untuk hidup, novel tersebut hadir dengan begitu menyentuh. Dengan jalinan kisah yang mengalir lincah, penulis berhasil membius pembaca, lantas membawanya pada petualangan dan cara pandang yang baru tentang bagaimana meraih cita-cita. Ketika ada sebagian kalangan yang masih begitu kaku dalam menyikapi hidup, penulis rupanya telah melompat seraya berseru bahwa masa depan dapat tercipta di antara berbagai keterbatasan. Bahwa stigma “bodoh” dapat runtuh begitu saja dengan upaya keras tak berkesudahan. Bahwa mimpi dan kerja keras adalah pasangan tak terpisahkan demi mewujudkan legenda hidup.
“Di dalam kemiskinan dan keterbatasan, janganlah kita membuat pembenaran untuk kalah atau menyerah!” demikian ucap Bu Kasmini kepada semua muridnya, satu ketika. Jujur, itu adalah sebaris kalimat yang sangat inspiratif bagi siapa pun. Harus diakui pula, kalimat sekaligus motivasi serupa itulah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan anak-anak Indonesia sekarang ini. Sekalipun kecerdasan, daya kritis, dan kemampuan inovatif anak-anak di dalam Sang Pelopor terasa begitu jauh dari realitas kita, namun Anda sebagai penulis sungguh telah berbagi keyakinan bahwa masih ada harapan untuk negeri kita, untuk masa depan anak-anak Indonesia. Bahwa sistem pendidikan yang sejatinya dibutuhkan anak-anak kita adalah pendidikan yang membebaskan, sebagai mana yang diterapkan di Madrasah Kampung Sawah.
Usai membaca, lantas menarik benang merah antara realitas kekinian dan novel ini, tersiratlah dengan jelas bahwa penulis berusaha menggali tafsir atas setiap kenyataan hidup yang pernah dilaluinya. Dan, inilah yang justru memberikan ruh kuat bagi Sang Pelopor. Tak semata dalam ceritanya, ruh tersebut juga tercermin pada penokohan, pada bagaimana setiap tokohnya menghayati dan menempuh hidup di jalan masing-masing. Milan Kundera pernah berujar bahwa menjadi penulis bukanlah untuk mengkhutbahkan kebenaran, namun untuk menggali dan menemukan kebenaran, kendati hanya seserpih. Maka, melalui tulisan, kuaklah terus kebenaran itu dengan semangat post-positivistik seperti yang telah Anda lakukan di dalam Sang Pelopor. Kami tunggu sekuel berikutnya, dan teruslah menulis!
Rabu, 19 Oktober 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar