Senin, 05 Desember 2011
BERSEDEKAH SEPERTI MATAHARI
Harusnya kita malu dengan matahari. Tiap hari, secara konsisten, ia bangun dipagi hari dan secara merata alias adil, dia membagikan rata sinarnya kepada manusia tanpa pernah mengharap pamrih. Saat malam tiba pun, ia masih tetap setia berbagi cahayanya di belahan bumi lain yang sedang menikmati siang dan juga memberikan pantulan sinarnya kepada Bulan agar belahan bumi yang mengalami malam juga bisa ikut merasakan sinarnya. Pemberian terus-menerus ini diberikan kepada matahari. Ia sama sekali tak pernah berharap balasan. Mungkin matahari adalah sosok ciptaan Tuhan yang masuk dalam Guiness of Record sebagai sosok yang paling banyak memberikan konstribusi (sedekah) untuk kepentingan yang lain. Tidak hanya tumbuhan agar dapat berfotosintesis tapi juga manusia untuk melaksanakan segala aktivitasnya.
Ini memang hal yang terlalu dramatisir. Namun, setidaknya ada hal yang menarik yang hendak disampaikan Tuhan lewat sistem kerja matahari yang menjadi Pusat Tata Surya kita sejak ratusan ribu tahun yang lalu, yakni konsep sedekah.
Andaikata mahatari adalah perumpamaan dari sosok seorang hartawan (orang kaya), yang selalu membagi-bagikan hartanya untuk orang lain, secara hitung-hitungan dengan akal sehat, maka apapun yang dibagi terus-menerus suatu saat pasti akan habis. Namun, untuk hal ini, saya tidak berbicara dengan akal sehat. Tapi lebih dari pada itu. Bagi saya, mungkin inilah konsep sedekah yang sesungguhnya.
Hum…mungkin inilah yang membuat matahari berusia panjang alias berumur panjang. Ia gemar sedekah. Emang benar kata Rasulullah SAW, sedekah bisa memperpanjang umur.
Dan benar sekali, sebuah kata bijak yang pernah terdengar olehku. Sampai hari ini, tidak ada satu orang pun yang dicap bangkrut karena sedekah. Yang ada paling, bangkrut karena salah investasi, bangkrut karena kehabisan modal dan sebagainya. Sekali lagi, sampai hari ini TIDAK ADA SATU ORANGPUN YANG BANGKRUT KARENA SEDEKAH.
Sobat muda, kita sadari saat ini, hidup dan bertahap hidup jauh lebih sulit. Bahkan untuk diri kita sendiri saja, kita kadang kala harus merangkak setengah mata untuk mendapatkan penghidupan yang cukup. Olehnya itu, tak heran, saat ini manusia lebih mementingkan diri sendiri. Lebih mengutamakan diri sendiri.
Namun, sekali lagi, mari kita cermati keadaan awal kita. Kita adalah manusia yang lahir ke dunia ini. Tanpa membawa apapun. Sepeserpun duit, sehelai benangpun, ataupun sebutir nasi. Gak ada yang kita bawa. Sekarang, kita telah memiliki segalanya. Memiliki minimal mimpi-mimpi kecil kita. Punya pekerjaan yang layak, punya keluarga yang mendukung karier dan pekerjaan kita, punya sosok ayah dan ibu, yang tiap saat bisa kita panggil dan mintai bantuan. Alangkah Indahnya itu saudara. Namun, akan sangat indah apabila kita membagikan kebahagiaan kita dengan yang lain. Memberikan apa yang telah dititipkan Tuhan, sebagian saja untuk orang lain.
Yah, menikmati apa yang kita dapatkan dari buah kerja keras kita semau kita itu adalah hal yang Indahnya luar biasa, namun saya yakin, pasti akan lebih indah apalagi apa yang telah kita dapatkan hari ini, kita bagi untuk orang lain.
Seperti sang mentari yang memang, cahayanya sangat indah dinikmati dikala terbenam maupun terbit, namun lebih indah adalah hasil dari pemanfaatan cahaya matahari yang merata di seluruh penjuru bumi ini yang menghasilkan tumbuhan dan hewan-hewan yang bermanfaat bagi kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)